Jumat, 28 Juni 2019

Meriang dan hampir gila

Meriang dan hampir gila, adalah dua hal yang  saya rasakan selama dua minggu terakhir ini. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Ujian Akhir Semester. Tidak hanya saya, tapi beberapa teman kuliah juga mulai bertumbangan ditengah perjuangan menjaga kecerdasan dan kewarasan supaya bisa tetap menulis dengan lancar.

Siapa bilang kuliah itu gampang. Siapa juga yang bilang kalau udah kerja itu enak, karena bisa menghasilkan uang dan foya-foya pakai duit sendiri. Bos saya di kantor pernah bilang, enak ya kuliah, gak kerja tapi dibayar. Tunjangan kinerja juga dapat. Bonus ke-13 dan ke-14 lancar masuk rekening. Teman yang lain ngomong, enak ya, kerjaannya makan-makan bareng, foto-foto bareng, seneng-seneng terus, kayak gak punya beban hidup dan cicilan bulanan.

Begitulah manusia. Bagi orang yang sedang kuliah, kerja itu enak. Bagi yang sedang bekerja, kuliah itu menyenangkan. Yang nggak enak dan nggak menyenangkan adalah ketika seseorang harus bekerja sambil kuliah. Haha. Persepsi orang memang nggak bisa disamakan. Nggak salah juga kok kalo kita menilai orang lain dari sudut pandang kita. Meskipun terkadang menyakitkan melihat orang lain selalu saja dalam kondisi bahagia, nggak pernah ngeluh apalagi sambat tentang masalahnya.

Ya karena apa yang saya, eh kita sering tampakkan di permukaan adalah momen yang indah dan berbahagia. Lagian buat apa coba membagi kesedihan, menularkan duka dan nestapa, atau meluapkan emosi negatif. Padahal kenyataannya bisa jadi tidak seindah yang terlihat. Mereka gak pernah tahu, siksaan H-1 sebelum kuliah, dimana setiap malam kami harus terjaga demi menyusun review mingguan materi kuliah yang akan dipresentasikan esok paginya. Mereka nggak bisa lihat kantung mata yang menghitam akibat seringnya begadang dan melototin jurnal, karena ketutup foundation dan concealer. Mereka nggak bisa paham mengapa saya sering banget dilanda sakit kepala, meriang dan encok akibat kelamaan duduk. Yalah susah kalo mau ngerjain tugas sambil lompat-lompat apalagi headstand. Biarlah derita ini kunikmati sendiri.

Jadi bagi kamu yang bilang kuliah itu enak, saya mau lah tukeran posisi. Paling nggak pas ujian semesteran kayak sekarang ini. *mau buka lowongan stuntstudent ah.😄

Bersenang-senang itu merupakan cara kami menghibur diri. Melepaskan ketegangan akibat beban pikiran yang selalu menghinggapi tanpa henti. Menghabiskan sekejap kebersamaan, yang pasti akan kita rindukan setahun mendatang. Jadi jangan nyinyirin mereka yang hobi jalan, kongkow di kafe kopi sampai berjam-jam, karaoke sampai lupa diri, atau jajan maksibar setiap jam istirahat ya. Bisa jadi mereka sedang escape from reality. Biar tetap waras.

Ok deh. Sudah jam 01.16 dan masih harus bikin review yang tertunda. Sungguh aku ini mahasiswa malas. Aku pindah dulu ke Ms Word ya mylooov.

Senin, 19 November 2018

Back to School

Kembali ke bangku kuliah merupakan impian saya. Setiap kali berdoa, tak lupa selalu saya selipkan permohonan supaya Alloh memberikan kesempatan lagi bagi saya untuk meneruskan pendidikan. Bukan semata-mata untuk kepuasan diri sendiri, tapi juga mengajarkan kepada anak-anak, bahwa pendidikan adalah sebuah prestasi yang layak untuk diperjuangkan.

Senin, 13 Agustus 2018, merupakan kali kedua saya terdaftar sebagai mahasiswa UGM. Kampus kebanggaan yang pro kerakyatan, dan dekat di hati. Alhamdulillah, puji dan syukur harus selalu saya panjatkan atas karunia dan ridhlo Alloh, saya masih diberi kesehatan, panjang umur, kemudahan dan kelancaran urusan sampai bisa kembali lagi kesini untuk memintarkan diri.

Disini saya bertemu dengan 43 mahasiswa lainnya, yang masing-masing punya keunikan tersendiri. Beberapa diantaranya sebaya dengan usia saya (baca:berumur), dan yang lainnya masih fresh graduate, alias dedek-dedek gemes. Lucunya, saya dan sesama ibu-ibu dipanggil "bunda" sama dedek-dedek ini sebagai bentuk penghormatan karena lebih tua, (dan bentuk ucapan terima kasih mungkin ya, karena kami ini rajin banget bawa makanan ke dalam kelas, jadi lumayanlah membantu anak kos).

Menyenangkan dan bersemangat. Itulah kesan setiap hari bertemu dan belajar bersama mereka. Bersama mahasiswa seumuran, kami seringkali menertawakan kebodohan disaat terlambat menangkap logika dosen dan ketinggalan mengejar daya pikir kritis adik-adik kami ini. Maklum, sudah bertahun-tahun pikiran kami dijejali dengan kegiatan rutin dan monoton terkait administrasi, sehingga mengikis daya inovatif dan kreativitas (ini sih apology aja). Di kelas, kami bisa saling bertukar ide, dan cerita, terutama mengenai fenomena dan gosip terbaru. Yalah, kami ini mahasiswa ilmu komunikasi, jadi (kata bu dosen) harus paham mengenai isu kontemporer terkait komunikasi dan selalu update terhadap informasi terkini.

Belajar tentang komunikasi juga tak kalah menyenangkan. Menghidupkan teori Lasswell tentang elemen komunikasi : who-says what-with what channel-to whom-with what effect dalam kehidupan nyata sehari-hari dapat membantu memahami esensi kehidupan ini, mengapa sih kita berkomunikasi? Menurut saya, ilmu komunikasi merupakan ilmu yang paling riil dan mudah dirasakan. Karena, siapa sih makhluk hidup yang tidak berkomunikasi?

Lain waktu, mungkin saya akan menulis lebih banyak lagi terkait kuliah, mata kuliah apa yang menyenangkan dan merepotkan, siapa dosen yang lovable dan avoidable, tips mendapatkan beasiswa bagi PNS, dan bagaimana caranya bisa masuk UGM dengan lancar dan berkah. Sabar ya kisanak, satu demi satu. Saya masih harus menyisakan akal supaya tetap bisa menulis di blog yang remeh temeh ini, di tengah kegilaan menyelesaikan setumpuk tugas kuliah yang membuat frustasi.

Doakan saya kuat ya. Alloh SWT membuka hati dan pikiran supaya mudah menerima ilmu. Dan insya Alloh bisa lulus sesuai target beasiswa. Amiin....


Senin, 11 Juni 2018

Lebih Produktif

Blog ini dibuat pada tahun 2016 berdasarkan niatan baik dari hati dan bertujuan sebagai penyaluran hobi menulis dan menyampaikan uneg-uneg. Siapa sih yang nggak punya cerita dalam kehidupannya? Semua orang pasti punya pengalaman pahit dan manis, yang akan mempengaruhi diri dan kehidupannya.

Masalahnya adalah, bagaimana agar menuliskannya dalam bahasa yang mudah dipahami, paling tidak untuk merefresh ingatan kita, supaya nggak pikun-pikun amat. Ini tahun 2018, dan selama tiga tahun sejak blog ini lahir, hanya ada tujuh tulisan saja yang terpublish, Bukan prestasi yang patut dibanggakan sih kalo dipikir-pikir.

Menulis itu bukan perkara gampang. Tidak semudah bicara mengungkapkan kata-kata. Eh, bicara juga gak gampang lho, harus pandai memilih kata supaya kalimatnya efektif. Perlu berpikir dengan penuh kehati-hatian untuk menentukan kalimat yang pas dan bermakna. Karena sebuah tulisan menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang. Setidaknya, nggak malu-maluin amat lah saat sepuluh tahun lagi tulisan ini direview dan dibaca ulang. Tapi yang sering terjadi adalah pengeditan ulang setelah tulisan di publish. *padahal siapa juga yang mau baca tulisan receh begini?

Faktor lainnya adalah konsistensi menulis. Memang susah-susah gampang menjaga komitmen supaya tetap rajin menulis secara periodik. Sama seperti sulitnya menjaga kadar keimanan kita supaya tetap stabil dan progresif. Sama beratnya dengan menjaga komitmen supaya tetap mesra kepada pasangan. Selalu saja ada godaan yang membuat enggan untuk berbuat. Badan capek sehingga kasur lebih menggoda daripada buka laptop, kerjaan menumpuk yang membuat otak overload, anak-anak rewel dan butuh perhatian ekstra, menjadi alasan yang paling bisa dimaklumi dan dimaafkan. Yang nggak bisa ditolerir adalah ketika kamu sibuk streaming buat ngikutin serial tv kesukaan, sehingga lupa kalau waktu bisa dengan cepatnya menguap. Huhuhu...

Namun alasan yang paling utama ada di dalam diri sendiri. Saya pernah mengikuti suatu sesi motivasi dan mendapatkan jurus jitu untuk mengubah potensi diri. Yang pertama adalah melepaskan belenggu gajah. Gajah adalah binatang besar dan kuat, namun masih bisa dikendalikan ketika kakinya dibelenggu. Artinya adalah, kemauan untuk berubah harus berasal dari dalam diri. Ini adalah faktor yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan potensi diri seseorang, namun ternyata langkah yang paling mudah dilakukan jika kita punya keyakinan.

Yang kedua adalah keluarlah dari kotak korek api, yaitu lingkungan yang mengungkung dan menghambat diri kita untuk berubah menjadi lebih baik. Ini lebih sulit untuk dilakukan. Karena selain berani, ternyata seseorang juga harus nekat. Jadi disaat kamu merasa terjebak dalam suatu kondisi yang membuatmu merasa nggak bisa maju dan berkembang, mungkin itu adalah pertanda kamu harus hijrah ke tempat yang lebih baik.

Alhamdulillah, saya senang bisa menemukan passion untuk menulis lagi. Mungkin ini yang dinamakan berkah Ramadhan, meskipun saya mengharapkan yang lebih, yaitu bisa mendapatkan berkah malam lailatul qadr. Oiya, lebaran tinggal tiga hari lagi, Jum'at besok kita semua menjalankan ibadah sholat Iedul Fitri. Saya mohon maaf lahir batin ya bagi yang pernah tersakiti atas segala khilaf dalam hal perkataan dan perbuatan baik yang disengaja maupun tidak. Semoga amalan ibadah puasa kita diterima dan dicatat sebagai amal kebaikan yang akan mengantarkan kita ke Jannah. Dan setelah bulan Ramadhan ini, kita kembali pada kesucian diri, serta menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat daripada sebelumnya. Amiiin..

Udah dulu ya. Saya ngantuk banget. Mau ngelanjutin tidur yang tertunda gara-gara Ameera minta dibuatin susu botol. Ebtw, dalam satu hari ini saya bisa posting dua tulisan lho..*bangganya luar bisa

Bagasi nyasar

Kamu pernah naik pesawat dan mengalami bagasi nyasar ke belahan negeri Indonesia yang lain? Saya pernah. Dan itu pengalaman yang super nyebelin banget. Masih saja teringat dan bikin trauma meskipun sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu. Tapi ada hikmahnya juga sih, bisa jadi pelajaran berharga supaya nggak sembarangan milih maskapai penerbangan cuma gara-gara nyari yang paling murah terulang lagi.

Ceritanya saya pulang dari tugas dinas di Bukittinggi, naik maskapai Meong-air yang sudah terkenal dengan predikat delay-nya. Perasaan tidak enak sudah terasa pada saat cek in di Bandara Padang, ketika saya minta stiker fragile nggak dikasih sama petugasnya. Okelah, dimaafin meskipun rada dongkol. Oiya, penerbangan kali ini lumayan lama karena harus transit di Soetta sebelum lanjut ke Adisucipto.

Saya harus menunggu tiga jam sebelum lanjut terbang ke Yogyakarta. Setelah mendarat, penumpang masih diminta nunggu dulu sekitar setengah jam sebelum diperbolehkan turun. Dan dongkol sesi dua pun berlanjut. Tapi masih ada lagi kejadian yang bikin kesel, yaitu pada saat antri pengambilan bagasi. Gimana coba perasaanmu ketika udah capek berdiri nunggu bagasi selama hampir dua jam, dan sampai kemunculan bagasi terakhir ternyata koper kesayangan belum terlihat juga. Maka pergilah saya ke konter bagasi klaim untuk lapor kehilangan bagasi.

Saya pun mengisi formulir, yang kemudian diunggah ke dalam sistem secara online. Sebelumnya saya ditanya kartu identitas dan bagasi barcode, yang ternyata kebawa oleh teman saya karena barcode ini ditempelin sama petugas cek-in Bandara Padang di tiket teman saya. Dengan tidak adanya bagasi barcode ini, maka saya gakbisa dapat ganti rugi atas klaim seandainya koper saya tidak kembali.

Mulai curiga nih, si Meong-air mau lepas tanggungjawab. Tapi bukan saya namanya kalo segitu aja nyerah. Tiap saat saya selalu menanyakan ke petugasnya via whatsapp sampai bisa dapat jawaban yang menenangkan hati. Sebagai konsumen, saya merasa dirugikan sekali. Terutama karena kualitas SDMnya yang jauh dari profesional. Misalnya, prosedur untuk klaim bagasi tidak dijelaskan dulu kepada customer sebelum customer mengisi formulir komplain, sehingga menyebabkan tidak bisa dilakukannya klaim untuk mendapatkan ganti rugi kehilangan apabila salah satu persyaratannya tidak terpenuhi. Menghadapi mamak-mamak yang rewel macam saya nih, mbak petugasnya rada keder juga. Pokoknya dia janji mau bantu melacak sampai dimanakah koper saya berada dengan mengecek keberangkatan transit di jam yang sama dengan keberangkatan ke Jogja, yaitu tujuan Manado, Denpasar dan Lombok.

Saya sih udah pasrah, harus mengikhlaskan kalo nantinya ini koper nggak bakalan balik lagi. Sampai akhirnya dua hari berikutnya saya dapat kabar kalo ada koper tak bertuan ditemukan di Bandara Makassar, dengan ciri-ciri mirip dengan koper saya. Dan saya diminta mengambilnya ke Bandara Yogyakarta begitu sampai.

Alhamdulillah, bahagia rasanya. Bersyukur dong pastinya. Hari itu juga, malamnya saya menjemput koper dengan senyuman mengembang di bibir, setelah berhari-hari manyun gara-gara jengkel pada pelayanan maskapai Meong-air. Saya maafin deh atas semua salah mbak dan masnya. Tapi saya gak akan lupain. Kapok naik maskapai ini lagi.

Dan tentu saja supaya tulisan ini bermanfaat ada beberapa pelajaran berharga yang bisa di share buat kamu :

  1. Pada saat cek in, pastikan ketika minta stiker fragile pada pertugas, stiker fragile ini udah nempel ke koper bawaan, supaya bagasi kita ditangani dengan lebih baik.
  2. Apabila cek-in berombongan, pastikan stiker bagasi yang ada barcodenya ditempel di tiket masing-masing, jangan dikumpulin trus ditempel di salah satu tiket. Supaya memudahkan pengecekan oleh petugas saat keluar di bandara tujuan. Dan tentu saja aman apabila mau klain bagasi jika sampai terjadi kasus koper nyasar.
  3. Nggak usah bawa bagasi deh. Minimalisir aja bawaannya. Masukin ransel atau koper ukuran kecil ke kabin. *tapi saya kok nggak yakin cewek-cewek bisa menghindari bawaan yang segambreng, apalagi kalau merencanakan bepergian dalam waktu lebih dari tiga hari
  4. Kalau masih banyak alternatif, jangan pernah naik maskapai Meong-air ini lagi. Bagi saya, kondisi emosi jiwa dan kenyamanan hati jauh lebih berharga dibanding selisih harga tiket seratus-dua ratus ribu rupiah.





Senin, 15 Mei 2017

Gagal fokus

Hari bener-bener sesuatu. Meskipun tak lupa berdoa, paginya saya berangkat ngantor dengan keadaan tetap baper. Membayangkan betapa repotnya hari ini tanpa internet. Hari Minggu kemarin, sudah rame di grup wa, dengan adanya himbauan dari kementerian pusat untuk mematikan jaringan internet untuk sementara, dikarenakan ancaman malware wannacry yang bisa merusak file dan menyebarluas via jaringan internet.

Catet ya, untuk sementara. Sampai dengan data dibackup, install ulang patch dll dsb. (Saya nggak gitu ngerti gimana langkah langkah penanganannya, sudah serahkan sama mas ahlinya).

Namun sampai jam kerja berakhir, ternyata belum bisa online juga. Harus menyabarkan hati, karena untuk ngeprint dokumen saya harus pasang lepas usb flashdisk dan pindah PC. Meskipun begitu, saya harus bilang Alhamdulillah, hari ini berlalu dengan sukses meskipun ada sedikit drama.

Pertama, saya bikin memo dinas. Buru-buru setelah di print, saya serahin ke bapak di ruang sebelah untuk ngantar ke tujuan. Tak berapa lama papasan sama si bapak, saya dimarahin, diomelin sambil diketawain. Ternyata, memo tadi belum ditandatangan sama bos. Haha...ngakak sepanjang jalan, ngetawain kebodohan diri sendiri.

Kedua, pas sholat Ashar jamaahan sama mbak Q dari ruang sebelah. Entah kenapa pikiran saya melayang-layang sampai ke rumah. Sehingga sholat Ashar berakhir dengan 3 rakaat. Habis salam, mbak Q ketawa ngakak. Ya Tuhan, ampunilah khilafku.

Mungkin, saya kurang minum air putih. Atau mungkin si virus ransomware wannacry ini tak saja bisa menyerang pc, namun bisa jadi telah menginfeksi otak saya. Yang jelas, lain kali saya gak boleh sering-sering kerja multitasking. Gak berbakat. Bisa-bisa konslet kayak hari ini.


Kamis, 26 Januari 2017

Banyak maunya

Sudah sifat perempuan ya kayaknya, hobi dandan, shopping, dan pamer. Ada yang menimbun make up. Ada juga yang hobi koleksi tas, sepatu, dan baju, yang bemerk tentunya. Yang paling bermanfaat mungkin koleksi emas ya, karena kalo pas lagi bokek bisa dijual lagi..hihi..

Jadi ceritanya, pakne nih suka komplain karena saya keseringan ngejahitin baju. Katanya, lemari udah penuh, gak muat lagi kalo ditambah isinya. Plus, baju bekas kalo diloakin juga tidak menguntungkan. Kan, orang bisnis berpikirnya lain.

Bagi saya, daripada susah cari ukuran baju yang cocok, mendingan ngejahitin, meskipun harganya jatuhnya lebih mahal. Lagian saya punya penjahit langganan yang hasilnya pas di badan dan di kantong. Dan pake baju yang bagus tuh bukan berarti pamer. Karena dengan memperhatikan penampilan, berarti kita menghargai diri sendiri. Dengan begitu, kita juga telah menghargai orang di sekeliling kita, pandangannya jadi lebih nyaman. Jadi, gonta ganti baju bukan berarti banyak gaya. Karena tujuan utamanya pake baju kan untuk menutup aurat.

Nah, setelah mendengar saya ngomel ngalor ngidul kayak gitu, akhirnya pakne menyerah. Nggak lagi sebel dan bersungut-sungut ketika saya pulang bawa kresek isi gombal. Bahkan nawarin saya untuk beli lemari lagi. Haha, yess.. dengan senang hati dong saya terima.

Tapi, kalo lemarinya nambah, rumah jadi terasa sempit ya. Hihi.. barangkali ada rencana mau perluasan rumah pah?

Suami saya pingsan. Serba salah. Punya istri banyak maunya.

Minggu, 22 Januari 2017

Komik strip

Saya ketularan Mila, kecanduan baca komik strip. Mungkin ini pertanda, hidup saya garing kurang joke. Mulai minggu kemarin, gak ada yang namanya nganggur, setiap saat pasti mantengin instagram atau webtoon.

Tahilalats, komikdimsum, mangimoc, sepulang sekolah dan pak guru inyong adalah favorit saya ketika lagi bete butuh ketawa.

Lathif, suka liat gambarnya, tapi belum bisa baca. Jadi nyusahin mbaknya suruh nyeritain dan bacain tulisannya.

Untungnya jaringan internet lancar, dan masih ada gratisan 10Gb dari ooreoo yang support browsing sampai mata jereng. Mayanlah, ngirit duit, gakperlu ke toko buku buat beli buku-buku komik, atau ke taman bacaan buat nyewa (yang mana kalo telat ngembaliin bisa kena denda).